Minggu, 15 November 2009

PERLINDUNGAN HAK-HAK PEMBANTU RUMAH TANGGA: STUDI KASUS PADA YAYASAN SOSIAL PURNA KARYA BANDUNG

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian Nomor: 003/SP2H/PP/DP2M/III/2007 tanggal 31 Desember 2006

Kokom Komalasari, M.Pd. dan Didin Saripudin, S.Pd., M.Si

Pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga merupakan pekerjaan yang didominasi oleh perempuan berlatar belakang pendidikan rendah dan status sosial ekonomi rendah. Peluang pekerjaan ini lebih terbuka lebar di daerah perkotaan seiring berubahnya fungsi peran ibu dalam rumah tangga sebagai pencari nafkah. Pekerjaan pembantu rumah tangga identik dengan image ‘pelayan’ dan pelayan harus tunduk pada majikan. Sehingga pekerjaan pembantu rumah tangga merupakan pekerjaan sektor informal yang tergolong sangat rentan terhadap pelanggaran hak-hak pekerja, diantaranya hak atas gaji yang layak, hak mendapat pelayanan kesehatan, hak mendapat hiburan, hak untuk istirahat (Iswati, 2001). Hal ini diperparah dengan belum ada perundangan khusus yang mengatur tentang pembantu rumah tangga, pihak yang berwenang ataupun pihak yang terkait sulit untuk melakukan perlindungan.

Di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, para pembantu rumah tangga dan pengguna jasa pembantu rumah tangga biasanya menggunakan biro jasa penyalur pembantu rumah tangga. Idealnya Biro Jasa ini turut memberikan wawasan dan perlindungan terhadap hak-hak pembantu rumah tangga dan membangun komitmen pembantu rumah tangga untuk menjalankan kewajibanya dalam hubungan kerja dengan majikannya. Berdasarkan permasalahan diatas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Perlindungan Hak-Hak Pembantu Rumah Tangga” Secara umum masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah ” Bagiamana perlindungan hak-hak pembantu rumah tangga yang disalurkan melalui Biro Jasa Penyalur Pembantu Rumah Tangga”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah Pembantu rumah tangga yang disalurkan melalui Yayasan Sosial Purna Karya Kota Bandung (5 orang) dan majikan pengguna jasa pembantu rumah tangga tersebut, pimpinan Yayasan Sosial Purna Karya Bandung, Dinas Sosial, dan Dinas Tenaga Kerja (Bagian Perlindungan). Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa: 1) Pada umumnya pembantu rumah tangga berlatar belakang social ekonomi rendah; 2) Kondisi lingkungan tempat bekerja umumnya kurang memadai terutama berkaitan dengan jaminan hak sosial dan kesehatan, jam bekerja, dan upah atau penghasilan; 3) Biro jasa penyalur tenaga kerja bermanfaat bagi Pembantu Rumah Tangga dalam menyalurkan pekerjaan, mendapatkan pendidikan dan pembinaan mengurus rumah tangga, dan perlindungan terhadap hak-hak yang diatur dalam perjanjian; 4) Hak-hak Pembantu rumah tangga meliputi hak jaminan kesehatan, fasilitas tempat tinggal, istirahat, hiburan, upah atau penghasilan yang layak, hak memperoleh perlakuan yang layak/terlindung dari tindak kekerasan; 5) sampai saat ini belum ada peraturan perundang-undangan khusus yang melindungi hak-hak Pembantu Rumah Tangga (PRT) sebagai seorang tenaga kerja. Oleh karena itu perlu ada peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur tentang Pembantu Rumah Tangga (PRT).

THE RIGHTS PROTECTION OF DOMESTIC SERVANT (CASE STUDY IN YAYASAN SOSIAL PURNA KARYA BANDUNG)

Kokom Komalasari dan Didin Saripudin

The job as domestic servants is the job dominated by women whose educational background and social status are low. The chance if this job is opened widely in urban area along with the change of mother role function in household as the breadwinner. The job of domestic servant is identical with the image of ’servant’ and the servant must submit to his or her employer. Therefore the job of domestic servant is an informal sector job, which is very susceptible to the violation of worker’s rights, such as the right of reasonable wage, the right to get health, the right to get entertainment, the right to take a rest (Iswati, 2001). It is worsened by the absence of specific law that arranges the case of domestic servants, thus the authoritative party or responsible party is difficult to protect them.

In some big cities such as Bandung and Jakarta, the domestic servants and domestic servants user usually use domestic servant distributor agent t. This service agent is ideally involved in giving the knowledge about the protection of domestic servants rights and establishing domestic servants’ commitment in doing their job relationship with their employers. Based on the problems above, the writer is interested in examining “The protection of domestic servants’ rights”. Generally, this problem examined in this research is “How the protection of domestic servants distributed by domestic servant distributor agent is applied.”

This research uses qualitative approach with case study method. The subject of research are domestic servants distributed by Yayasan Sosial Purna Karya Bandung (5 persons) and the employers using that domestic servant service, te head of Yayasan Sosial Purna Karya Bandung, Social Department, and Manpower Department (Protection Division). The used techniques of data collection are observation, interview and documentation study.

Based of the research finding, it is concluded that: (1) generally, domestic servants have low socioeconomic background; (2) under the security of social and health rights, working hour, wage or salary; (3) domestic servant distributor agent is very useful for domestic servants in distributing the jobs, achieving knowledge and training in managing household, and protection of the right arranged in the contract; (4) the rights of domestic servant include the right of health insurance, living facility, recess, entertainment, reasonable wage or salary, the right to get fair treatment/ protected from violence action; (5) until now, there is no specific law that protects the rights of domestic servant (PRT) as an employee. Therefore, there should be a specific rule that arranges the case of domestic servants (PRT).

Minggu, 25 Oktober 2009

Anak Tuna Rungu

Mempersiapkan Anak Tuna Rungu Menuju Sekolah
Masalah Anak Tuna Rungu
1. Kurangnya kemampuan akademik yang menggunakan kemampuan auditori.
2. Defisit dalam komunikasi verbal.
3. Defisit dalam keterampilan sosial yang menggunakan bahasa verbal.
4. Percaya diri.
Persiapan Orang Tua
A. Kemampuan anak
1. Akademik
a. Kognitif
b. Bahasa
c. Motorik
2. Sosialisasi
a. Komunikasi
b. Interaksi
c. Percaya diri
B. Sekolah
1. Sistem Pendidikan
2. Sumber Daya Manusia (tenaga pengajar)
Sistem Pendidikan:
A. Khusus
1. Anak-anak dengan kebutuhan khusus
2. Guru-guru khusus
3. Sekolah khusus

B. Umum
1. Anak-anak umum
2. Guru-guru umum
3. Sekolah umum
Sekolah Umum:
A. Integrasi
1. Memindahkan anak-anak khusus dari institusi ke kehidupan bermasyarakat
2. Normalisasi
3. Mengubah anak untuk dapat menyesuaikan dengan sistem ‘normal’
B. Inklusif
1. Setiap anak adalah unik dan berbeda
2. Setiap anak dapat belajar
3. Setiap anak memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda
Keuntungan Pendidikan Inklusi
1. Anak-anak dengan kebutuhan khusus terbebas sistem pendidikan yang terpisah; meminimalkan efek labeling dan sosialisasi yang terbatas.
2. Anak-anak dengan kebutuhan khusus memperoleh contoh keterampilan adaptif; pengalaman yang lebih realistis dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Anak-anak normal belajar untuk lebih menghargai dan memandang positif anak-anak dengan kebutuhan khusus.
4. Keluarga dengan anak berkebutuhan khusus tidak akan merasa terkucil dari anggota masyarakat lainnya.
5. Keluarga yang tidak memiliki anak dengan berkebutuhan khusus belajar untuk membina hubungan dan menghargai keluarga dengan anak yang berkebutuhan khusus.
Konsekuensi Pendidikan Inklusi
1. Sangat diperlukan penerimaan dari seluruh pihak (sekolah, guru, anak-anak dan orang tua) terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.
2. Sangat diperlukan kesiapan sumber daya manusia (sikap dan keterampilan).
3. Sangat diperlukan kesiapan peralatan penunjang.
4. Sangat diperlukan keterlibatan dan peran serta orang tua anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk bekerja sama dengan sekolah.
(sebuah sudut pandang orang tua yang mempunyai anak dengan gangguan pendengaran)

Salah satu hak hidup yang dimiliki oleh setiap manusia tidak terkecuali oleh anak yang mempunyai kebutuhan khusus adalah hak untuk mendapatkan pengajaran. Hak untuk mendapatkan pengajaran dapat diperoleh di sekolah. Selain itu sekolah juga merupakan tempat pembentukan karakter serta sarana bersosialisasi untuk mempersiapkan diri menuju jenjang yang lebih tinggi.

Sekolah bagi anak berkebutuhan khusus
Untuk memfasilitasi sekolah bagi anak berkebutuhan khusus termasuk tuna rungu untuk mendapatkan pendidikan yang layak, maka pemerintah dibantu oleh pihak swasta membentuk sekolah luar biasa yang biasa disingkat SLB. Sekolah ini mempunyai cara serta kurikulum yang disesuaikan bagi anak berkebutuhan khusus agar dapat mandiri serta mensejajarkan diri dengan anak normal. SLB dikategorikan berdasarkan jenis dari kebutuhan khusus yaitu, antara lain:
1. SLB A sekolah untuk bagi anak yang mempunyai gangguan penglihatan atau tuna netra.
2. SLB B sekolah untuk anak yang mempunyai gangguan pendengaran atau tuna rungu.
3. SLB C sekolah untuk anak yang mempunyai masalah mental atau tuna daksa

Sekolah bagi anak tuna rungu
Pada awalnya bagi orang tua yang mempunyai anak dengan masalah gangguan pendengaran pilihan pertama untuk menyekolahkan anak adalah di SLB, hal ini disebabkan minimnya pengetahuan orang tua dalam membesarkan anak dengan gangguan pendengaran, termasuk memberikan pendidikan. Tapi pada perkembangan selanjutnya banyak kasus yang membuktikan bahwa anak dengan gangguan pendengaran dapat bersekolah di sekolah umum hal ini tak lepas dari beberapa faktor yang mendukung meningkatnya kualitas komunikasi 2 arah, yaitu:
1. Kemajuan teknologi alat bantu dengar yang dapat menjangkau semua tingkat gangguan pendengaran dengan hadirnya teknologi digital, FM system dll.
2. Kemajuan dunia medis dengan operasi kohlea.
3. Beragamnya metode terapi yang dapat dipilih dan yang dapat disesuaikan bagi kebutuhan anak seperti speech therapy (terapi wicara), audio verbal therapy (terapi mendengar) dan Natural Auditory Oral (NAO) dll.

Banyak pula orang tua yang berpendapat bahwa SLB adalah sarana pendidikan yang paling baik bagi anak hal ini disebabkan oleh beratnya tingkat gangguan pendengaran yang mempengaruhi kemampuan komunikasi hingga belum dapat berkomunikasi verbal 2 arah yang dengan baik.
Berikut ini adalah beberapa kasus jenjang pendidikan yang diambil oleh orang tua dalam menyekolahkan anak dengan gangguan pendengaran :
1. Bersekolah di SLB, dari awal pra sekolah, TK hingga pendidikan menengah atas (SMA) bersekolah di SLB.
2. Bersekolah di SLB kemudian pindah ke sekolah umum, dengan melihat perkembangan kemampuan komunikasi 2 arah yang makin baik banyak orang tua berkeyakinan bahwa anak dapat bersekolah di sekolah umum, biasanya hal ini dimulai selepas dari TK atau SD.
3. Bersekolah di sekolah umum, beberapa kasus menunjukkan bahwa anak dengan gangguan pendengaran dapat bersekolah di sekolah umum sejak TK hingga SMA, dengan dibantu dengan terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak secara intensif sejak balita.

Terdapat perbedaan yang yang mendasar antara bersekolah di SLB atau umum yaitu:
1. Kurikulum
a. SLB sudah mempunyai kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dengan gangguan pendengaran.
b. Sekolah umum tidak mempunyai kurikulum khusus bagi anak dengan gangguan pendengaran, anak harus berusaha lebih agar dapat mengikuti tahapan pembelajaran (kurikulum) di sekolah serta berkompetisi dengan teman- temannya yang mendengar normal.
2. Guru
a. SLB mempunyai guru dengan latar belakang pendidikan bagi anak yang mempunyai gangguan pendengaran.
b. Banyak Sekolah umum tidak mempunyai guru dengan latar belakang pendidikan bagi anak yang mempunyai gangguan pendengaran. Akan tetapi belakangan ini pemerintah melalui SD Negeri mempunyai program inklusi bagi anak dengan kebutuhan khusus dengan menyediakan guru pendamping kelas.
3. Jumlah murid
a. Jumlah murid di SLB cenderung sedikit karena di dalam sistem pengajaran menitikberatkan sistem individual.
b. Jumlah murid cenderung banyak dan bersifat klasikal, anak dituntut untuk banyak bertanya apabila tidak memahami.
4. Kualitas komunikasi
a. Kualitas komunikasi verbal anak dengan gangguan pendengaran yang bersekolah di SLB biasanya tidak sebaik anak dengan gangguan pendengaran yang bersekolah di sekolah umum, hal ini bisa jadi disebabkan karena mereka tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang normal. Penggunaan bahasa isyarat merupakan hal wajar untuk berkomunikasi di antara sesama.
b. Peningkatan kualitas komunikasi diperlihatkan karena anak dengan gangguan pendengaran dipaksa oleh keadaan untuk berusaha dengan keras berkomunikasi dengan baik dengan anak-anak dan lingkungan yang mendengar.

Dari uraian tersebut diatas, ada baiknya bahwa orang tua harus berpandangan realistis dan meredam keinginan yang didasari oleh emosi di dalam menentukan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak, karena perkembangan intelektual, emosi serta perilaku setiap anak berbeda. Perlu penilaian, evaluasi serta observasi yang objektif oleh orang tua terhadap anak sebelum menentukan pilihan yang tepat untuk anak di dalam mendapatkan pendidikan.

Bukan berarti anak yang mempunyai gangguan pendengaran yang bersekolah di sekolah umum lebih baik kualitas hidupnya dari pada anak yang bersekolah di SLB, karena banyak juga anak-anak jebolan SLB yang berhasil menjadi seorang profesional bekerja secara formal. Begitu juga sebaliknya banyak pula anak dengan gangguan pendengaran yang bersekolah di sekolah umum yang berhasil pula menjadi seorang profesional. Jadi sekolah dimanapun baik di sekolah umum atau SLB bukan hal yang perlu dipermasalahkan asal pilihan orang tua sesuai dengan kemampuan anak. Dan tugas kita sebagai orang tua untuk terus membimbing, menemukan bakat serta potensi agar anak siap di kehidupan yang akan datang. Mungkin hal yang perlu didengungkan adalah semangat 'everybody is equal' atau semua mempunyai kesempatan yang sama di dalam hidup, termasuk di dalamnya memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja.
Ada banyak pendekatan yang digunakan untuk anak dengan gangguan pendengaran. Dan ada banyak perbedaan yang dihasilkan karena perbedaan pendekatan yang digunakan pada saat gangguan pendengaran terdeteksi akan memiliki efek jangka panjang pada perkembangan anak dan kehidupannya pada masa datang. Oleh karena itu, professional yang pertama berhubungan dengan dengan keluarga yang mencari saran tentang bagaimana penanganan anak dengan gangguan pendengaran memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk masa depan anak.

Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa, apabila anak dengan gangguan pendengaran berat atau bahkan sangat berat mendengarkan dengan baik, maka kualitas dari bicara mereka kadang mengagumkan bagi para professional yang tidak berpengalaman tentang apa yang akan terjadi apabila kemampuan mendengarnya diaktifkan akan dapat terbangun dengan baik.

Pendekatan ini juga didasarkan pada kenyataan bahwa, hanya 3 % dari anak dengan gangguan pendengaran yang kedua orang tuanya tuna rungu.

Pendekatan ini disebut “natural” karena menyediakan lingkungan bagi anak dengan gangguan pendengaran untuk tahap belajar bahasa sama dengan anak yang dapar mendengar normal. Disebut “auditory” karena menekankan penggunaan pendengaran berapapun sisa pendengaran yang ada dibantu dengan alat Bantu dengar (ABD) atau cochlea implant (CI). Dan “oral” adalah hasil yang didapat anak dari membangun kemampuan bicaranya.

Ketika anak dengan gangguan pendengaran memakai abd, anak tersebut belajar untuk mendengar dan dapat mendengar karakter-karakter dasar dalam bicara. Apabila mereka diberi kesempatan untuk berada di lingkungan yang sama dengan anak yang dapat mendengar normal, mereka akan termotivasi untuk terus memakai abd dan berkembang kemampuan bicaranya, sesuai dengan perkembangan anak-anak normal lainnya.

Pendekatan Natural Auditory Oral adalah lebih kepada gaya hidup daripada metode pendidikan.


SYARAT-SYARAT PENERAPAN NAO :

1. Memaksimalkan sisa pendengaran sedini mungkin.
2. Memakai abd yang sesuai atau CI
3. Menciptakan lingkungan dimana anak berkomunikasi dengan bahasa yang natural.
4. Lingkungan yang bebas bahasa isyarat.
5. Orang tua dan terapis focus pada tujuan yang sama, bahwa anak dengan gangguan pendengaran mempunyai kesempatan yang sama dengan anak yang memiliki pendengaran normal untuk membangun bahasanya.


KEBUTUHAN UTAMA ORANG TUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MENDENGAR ANAKNYA :

1. Yakin bahwa dengan abd anaknya dapat mendengar dan dapat belajar untuk mendengar
2. Belajar menangani dan merawat abd atau CI milik anaknya, untuk meyakinkan bahwa anaknya dapat mendengar secara efektif pada kedua telinganya
3. Belajar menciptakan lingkungan untuk mendengar


HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI DALAM PENERAPAN NAO :

1. Gerakan mulut yang berlebihan
2. Ekspresi wajah yang berlebihan
3. Mengarahkan untuk melihat bibir pada saat berbicara – ‘melihat’ untuk ‘mendengar’
4. Menyentuh anak untuk memanggil namanya atau untuk mendapatkan perhatiannya
5. Memakai bahasa tubuh yang tidak umum atau memakai bahasa isyarat
6. Memakai bahasa tubuh yang berlebihan untuk meyakinkan melihat daripada mendengar
Aktivitas sehari-hari pada anak-anak dapat digunakan untuk meningkatkan pendengaran, ujaran, bahasa dan berpikir. Perkembangan untuk meningkatkan pendengaran, terbagi dalam 3 bagian:
1. Diskriminasi fonem dalam suku kata.
2. Diskriminasi perkataan dalam ungkapan.
3. Memori auditori.
Bahasa dikembangkan melalui peningkatan pendengaran dengan menggunakan wicaranya berulang-ulang dan dengan perbedaan akuistik yang baik. Terapis harus mulai dari apa yang dipahami dan bermakna pada anak-anak tersebut. Bahasa dan berpikir dibina bersama kemudian dikembangkan dalam bahasa lisan, disesuaikan dengan cara berkomunikasi.

Dalam meningkatkan fungsi pendengaran, terdapat hubungan antara pendengaran, wicara, bahasa dan pemikiran di dalam semua aktivitas sehari-hari, dimana sasaran itu digolongkan di dalam 1 aktivitas. Belajar mendengar tidak berhubungan dengan umur.

1. Meningkatkan pendengaran dengan cara duduk bersebelahan dan dekat dengan pengguna Alat Bantu Dengar.
2. Mengurangi bunyi bising di sekitarnya, seperti bunyi radio, televisi, AC dan sebagainya.
3. Bantu anak-anak itu dengan cara menggunakan “motherese” agar wicaranya lebih jelas.
4. Pilih aktivitas yang sesuai dengan minat dan umur anak-anak tersebut.

Tahapan-Tahapan Peningkatan Kemampuan Pendengaran:
1. Deteksi
Untuk mengetahui ada atau tidaknya bunyi dilakukan dalam permainan, dimana anak-anak belajar memberi jawaban terhadap bunyi yang ia dengar. Frekuensi vocal yang mudah seperti (oo), yang sedang (ah) dan (brem-m-m), lebih mudah dideteksi oleh anak-anak, oleh karena mereka sering mendengar bunyi-bunyi konsonan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan bunyi-bunyi konsonan (m-m-m), (b-b-b) dan bisikan (baa), maka akan menambah pengenalan pendengaran.

2. Diskriminasi
Membedakan bunyi dalam hal kualitas, intensitas, durasi dan nada. Apabila anak-anak keliru dalam berkata, maka mereka harus belajar membedakan bunyi dulu.

3. Identifikasi
Bila anak-anak itu mulai menggunakan perkataan yang bermakna, maka orang tua dapat menambah bagaimana pendengaran anak tersebut dalam pembendaharaan katanya melalui permainan atau aktivitas sehari-hari.

4. Pemahaman
Dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, bercerita dan memberikan lawan kata.

Perkembangan Kemampuan Pendengaran

Perbedaan fonem dalam suku kata:
• Menanggapi variasi vokal. Contoh: /u/, /a/, /i/ dan suara (br-r-r).
• Menanggapi variasi konsonan. Contoh: (m-m-m), (b-b-b) dan (wa-wa).
• Peniruan gerakan fisik (permulaan untuk bicara).
• Mempergunakan peniruan kiu tangan (untuk produksi fonem spontan).
• Peniruan kualitas variasi suara supra segmental pada fonem atau variasikan nada, irama dan durasi. Contoh: (ae-ae) (ae-ae), (ma) (ma), (m-a-a-a).
• Peniruan pertukaran vokal diftong. Contoh: (a-u) (u-i) (a-i).
• Peniruan variasi konsonan pada friktatif (gesekan, mis: f-v), nasal (sengau, mis: m-ng) dan posif (letusan, mis: p-t). Contoh: /h/ /h/ dengan /m/ /m/ /m/ dengan /b/ /b/.
• Peniruan konsonan bersuara dan tidak bersuara, contoh: /b/ /b/ dengan /p/ /p/, kemudian variasikan dengan vokal. Contoh: (bo-bo) (pae-pae).
• Peniruan suku kata dengan konsonan-vokal. Contoh: (ba-bo), (mi-mu).
• Ganti komponen yang berlainan dan variasikan dengan vokal. Contoh: (ma-ma) (no-no); (bi-bi) (go-go).
• Variasikan suku kata konsonan dengan vokal yang sama. Contoh: (bi-di), ko-go).

Perbedaan perkataan dalam ungkapan:
• Memperkenalkan bunyi untuk kata yang bermakna. Contoh: ngung-ngung  pesawat, ngeng-ngeng  motor; tut-tut  kereta api.
• Memperkenalkan 2 suku kata berlainan pada kata yang bermakna. Contoh: pisang, bunga.
• Memperkenalkan kata yang bermakna konsonan awal sama dan vokal yang bervariasi. Contoh: bola, botak, bonsai.
• Memperkenalkan kata-kata yang bermakna dengan perbedaan konsonan yang khas untuk p.o.a (point of articulation-penempatan alat ucap) dan m.o.a (manner of articulation -caranya).
• Memperkenalkan konsonan awal yang sama dan konsonan akhir yang berlainan. Contoh: cap, cat.
Memori Pendengaran:
• Mulailah dengan suara-suara yang berhubungan. Contoh: tik-tok dengan moo-oo-oo.
• Memahami dan melakukannya. Contoh: tutup pintu, buka pintu.
• Memperkenalkan kalimat dan mengulang kata-kata terakhir, kemudian kata-kata tengah. Contoh: Di mana bola kemudian lempar, lempar, lempar. Pegang hidung, hidung, hidung mancung.
• Memperkenalkan kalimat, dimana kata akhir diletakkan di tengah. Contoh: Ambil gelas kemudian letakkan gelas di atas meja.
• Pilih 2 objek kata dalam 1 kalimat. Contoh: Beri saya bola dan sepatu. Cuci kedua tanganmu.
• Memperkenalkan obyek dengan cara mendengarkan uraian dalam kalimat. Contoh: Bila engkau mempunyai sayap, engkau dapat melakukan terbang ke atas langit.
• Pilih 3 unit:
- 3 obyek. Contoh: saya mau buku, jeruk dan topi.
- Kata benda, kata depan. Contoh: anjing itu di bawah kursi.
- 2 obyek dan penghubung. Contoh: beri saya apel bukan jus apel.
- 2 kata benda ditambah kata kerja. Contoh: kuda dan ayam sedang minum, boneka dan kucing duduk di kursi.
- 1 kata kerja dan 2 obyek. Contoh: cuci tangan dan kaki.
• Memperkenalkan 4 sampai 5 unit:
- 4 obyek. Contoh: beri saya apel, buku, pensil dan penghapus.
- 2 kata kerja. Contoh: bapak sedang tidur dan ibu sedang duduk.
- Variasikan perbedaan kata penghubung, kata depan dan kata kerja. Contoh: ambil apel atau nanas di samping gelas itu atau berikan ibu jam bukan gelang.
- Menambah keterangan waktu. Contoh: sebelum kamu tidur harus gosok gigi dulu.
- Menambah uraian dalam kalimat. Contoh: Bapak makan kue dan minum teh kemudian duduk di depan televisi.
• Melakukan percakapan dari topik yang telah diketahuinya.
• Mendengarkan cerita dan menjawab pertanyaan.
• Melakukan percakapan dengan topik yang diketahui oleh keluarganya.

Selasa, 20 Oktober 2009

Amalan penduduk Surga

Rasulullah bersabda :

"Tidak seorang pun di antara kamu melainkan tempatnya telah ditentukan Allah di surga atau di neraka. Maka bertanya seorang sahabat, "Ya Rasulullah ! Kalau begitu apakah tidak lebih baik kita diam saja menunggu suratan taqdir nasib kita tanpa beramal." Jawab Beliau , "Orang yang telah ditetapkan Allah menjadi orang bahagia, adalah karena ia beramal dengan amalan orang yang berbahagia, dan orang yang telah ditetapkan Allah menjadi orang yang celaka adalah karena ia beramal dengan amalan orang celaka. Karena itu beramallah ! Semua sarana telah disediakan. Adapun orang-orang bahagia, mereka dimudahkan untuk mengamalkan amalan-amalan orang berbahagia. Dan orang-orang celaka, mereka dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang celaka; kemudian beliau membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. 92:5-10)" (H.R.Muslim).

Ada beberapa amalan ahli surga di dunia yang termuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah :

1. Bertobat dan memohon ampunan kepada Allah dari seluruh dosa dan kesalahan. Senang bersedekah, mampu menahan amarah serta memiliki sifat pemaaf.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (QS. 3:133-136).

2. Berhijrah dari keburukan (jahiliyah) kepada kebaikan (islam), serta berjihad dengan harta dan jiwa demi meninggikan kalimatullah.

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhoan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. 9:20-22)

3. Istiqomah dalam keta`atan dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya

"Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan : "Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. 46:13-14)

4. Khusyu` dalam shalat, meninggalkan perbuatan yang tidak berguna dan membayar zakat, menjaga kemaluan serta memelihara amanah.

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (QS. (ya'ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS. 23:1-11)

5. Menuntut ilmu syar`i yang sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah disertai implementasinya dalam kehidupan.

Dari Abu Umamah berkata : saya telah mendengar Rasulullah n berkhutbah pada haji wada` maka beliau n bersabda : "Barangsiapa meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga." (H.R. Muslim.)

6. Berwudhu` secara sempurna dan dilanjuti dengan membaca syahadatain setelah selesai berwudhu`.

Dari Umar bin Khaththab r.a. bahwa Nabi bersabda : "Tidaklah salah satu diantara kalian yang berwudhu`, lalu disempurnakan wudhu`nya itu, sesudah itu dia berucap : "Asyhadu an la ilaha illallah, wa anna Muhammadan `abdullah wa rasuluhu (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq untuk disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan rasul-Nya) melainkan dibukakan baginya 8 pintu surga yang dapat dimasukinya dari mana saja menurut kehendaknya." (H.R. Muslim.)

7. Kontinyu dalam melaksanakan shalat nafilah (sunnat) sebelum maupun sesudah shalat fardhu (sunnah rawatib ba`diyah dan qabliyah)

Dari Ummu Habibah berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : "Barang siapa yang mengerjakan shalat 12 raka`at sehari semalam, akan dibuatkan oleh Allah untuknya rumah di surga." (H.R. Muslim.)

12 raka`at itu terdiri dari 4 raka`at sebelum shalat Zhuhur, 2 raka`at setelahnya, dan 2 raka`at setelah shalat Magrib dan 2 raka`at setelah shalat Isya, serta 2 raka`at sebelum shalat Shubuh sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

8. Membangun masjid semata-mata karena Allah Ta’ala

"Barangsiapa membangun masjid dalam rangka mencari keridhaan Allah semata, maka Allah akan membuatkan pula baginya rumah di surga." H.R. Bukhari dan Muslim.

9. Menyantuni dan memelihara anak yatim serta peduli terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup mereka.

Dari Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : "Kedudukan pengasuh anak yatim dengan saya di surga adalah seperti ini, sambil menunjukkan telunjuk dan jari tengah." (H.R. Muslim)

10. Beriman kepada Allah dan hari Akhir, serta berinteraksi sosial

Dari Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah saw bersabda : "Siapa yang ingin bebas dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah dia berjasa kepada umat manusia sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat itu dan dia beriman kepada Allah dan hari Akhir." (H.R. Muslim.)

11. Menyebarkan salam, memberikan makan fakir miskin dan menjalin tali silaturahmi serta shalat malam (tahajjud).

Dari Abdullah bin Salam ra bahwa Nabi saw bersabda : "Wahai umat manusia, sebarkan salam, berilah makan, jalinlah tali silaturahmi, shalat tahajudlah di saat manusia tertidur lelap, maka kalian akan masuk surga." (H.R. At-Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih).

Tempat Tinggal Iblis

Anas bin Malik r.a. berkata:

Iblis bertanya lagi: "Wahai Tuhanku, Engkau telah berikan anak Adam berkumpul di masjid, di manakah pula tempatku berkumpul?" Firman Allah: "Tempatmu berkumpul ialah di pasar-pasar, pesta, tempat hiburan serta majlis-majlis maksiat."

Iblis bertanya: "Wahai Tuhanku, Engkau berikan anak Adam itu kitab (Al-Quran) untuk mereka membacanya, tunjukkanlah apa pula bahan bacaanku?" Firman Allah: "Bacaan untukmu ialah syair dan sajak yang melalaikan."

Iblis bertanya: "Wahai Tuhanku, Engkau telah berikan kepada mereka cerita-cerita benar, apakah pula cerita bagiku?" Firman Allah: "Cerita bagimu ialah kata-kata kesat dan dusta."

Iblis bertanya: "Wahai Tuhanku, Engkau telah berikan azan kepada anak Adam untuk mereka memanggil orang sembahyang, apa pula azan untukku?" Firman Allah: "Azan untukmu ialah seruling."

Iblis bertanya: "Wahai Tuhanku, Engkau telah menghantar utusan-Mu dari para rasul dan juga nabi, siapakah yang menjadi utusanku?" Firman Allah: "Para utusan mu terdiri daripada tabib, dukun dan penyeru yang menduakan Aku."

Iblis Bertanya: "Wahai Tuhanku, Engkau berikan kitab suci Al-Quran yang bertulis kepada mereka, apakah pula tulisan bagiku?" Firman Allah: "Tulisanmu ialah tato, gincu serta lukisan di badan."

Iblis bertanya: "Ya Tuhanku, Engkau berikan anak Adam perangkap, apakah pula perangkap bagiku?" Firman Allah: "Perangkap bagimu ialah wanita."

Iblis bertanya: "Ya Tuhanku, Engkau berikan mereka minuman yang halal yang disebutkan nama-Mu, apakah pula minuman untukku?" Firman Allah: "Minumanmu ialah sesuatu yang memabukkan serta yang tidak disebutkan nama-Ku padanya."

Sabda Rasulullah saw: "Wahai manusia, laksanakanlah amalan-amalan menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sebelum kamu merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah amalan yang ringan namun kontinyu." ( Hadis Riwayat Muslim )

Dari Anas bin Malik r.a. katanya Nabi s.a.w. bersabda : "Sesungguhnya apabila orang kafir mengerjakan kebaikan di dunia, dia diberi upah dengan amalnya itu berupa rezeki di dunia. Adapun orang Mukmin, maka pahala kebaikannya disimpan Allah Taala untuknya di akhirat serta diberinya rezeki di dunia berhubung dengan taatnya."

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda; "Barang siapa percaya kepada Allah dan hari akhirat maka berbicaralah dengan baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat maka harus memuliakan tetangga. Barang siapa percaya kepada Allah dan hari akhirat maka harus memuliakan tamunya."

(Sahih Bukhari & Muslim)

Jumat, 16 Oktober 2009

Masih Kata Orang... Change De different..

Kepengecutan yang paling besar adalah ketika kita membuktikan kekuatan kita kepada kelemahan orang lain (Jacques Audiberti)
Yang terpenting adalah menguasai diri sendiri (Eckermann)
Seorang Intelektual adalah orang yang pikirannya menjaga pikirannya sendiri (Albert Camus)
Kebahagiaan lebih banyak menipu daripada kesusahan (Martin Luther)
Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan (Paul Galvin, founder Motorola)
Hidup itu seperti musik, yang harus di komposisi oleh telinga, perasaan dan instink, bukan oleh peraturan (Samuel Butler)
Di dunia ini benda-benda tidak akan berubah, kecuali kalau ada yang mengubahnya . (James A.Garfield)
Jangan buang hari ini dengan mengkuatirkan hari esok. Gunung pun terasa datar ketika kita sampai ke puncaknya. (Phi Delta Kappan)
Sedikit orang kaya yang memiliki harta. Kebanyakan harta yang memiliki mereka (Robert G. Ingersoll)
Bukan masalah-masalahmu yang mengganggumu,tetapi cara Anda memandang masalah-masalah itu.Semuanya bergantung pada cara Anda memandang sesuatu . (Epictetus Compassion is the basic of all morality by Arthur Schopenhauer)
Tak ada yang menarik,jika Anda tidak merasa tertarik (Helen MacInnes)

ini kata orang...lakuin yang terbaik. This choice..

Kita tidak bisa mengingkari kesan bahwa manusia umumnya menggunakan standar yang keliru. Mereka mencari kekuatan,sukses dan kekayaan untuk diri mereka sendiri, memuji diri mereka di hadapan orang lain dan mereka memandang rendah pada apa yang sebenarnya berharga dalam hidup (Sigmund Freud )
Sukses adalah keberhasilan yang anda capai di dalam menggunakan talenta-talenta yang telah Allah berikan kepada Anda (Rick Devos)
Hiduplah sedemikian rupa sehingga Anda tidak akan merasa malu ketika orang laing berbicara tentang keluarga Anda. (Will Rogers)
Bekerja keras sekarang, merasakan hasilnya nanti; bermalas-malas sekarang, merasakan akibatnya nanti. (John C. Maxwell)
Kehilangan kekayaan masih dapat dicari kembali, kehilangan kepercayaan sulit didapatkan kembali. (Erich Watson)