![]() |
| benar2 jelek |
Kenangan berharga menjumpai pada suatu hari, dimana gue/gw/akuh/sayah sedang menikmati kegelisahan karena harus melakukan perjalanan yang sangat melelahkan. Detik memaksaku harus memilih apa pun yang akan terjadi karena sudah menjadi suratan takdir. Tak bisa dihindarkan apalagi dihindari. Sungguh.
Akhir abad delapan puluhhan yang menjadi saksi bisu ku harus jalani detik-detik hidup. Saat semua berada dalam krisis dan kritis multidimensional, berkepanjangan dan berkeping-kepingan(!???).
Ini bukan tentang sebuah hari dimana lahirnya raga nan molek ini, akan tetapi sederet usaha untuk mendapat kelayakan hidup serta kenikmatan mati. Dari detik pertama ku terbentuk oleh dua jenis bahan yang berbeda, nutfah yang berbeda, senyawa yang jelas-jelas beda tapi sama(bingung kan? Apalagi gue yang basic’nya tukang bubur).
Bukan saat itu aku/gw/gue/sayah/abi mulai berpikir, tapi saat ketika ku bisa berpikir. Entah kapan dan dimana. Kini hanya berupa kesadaran, bukan pikiran.
Berharganya suatu kenangan, itu karena kenangan selalu seperti bekas luka goresan, tusukan, atau bisa jadi sayatan. Bekasnya takkan cepat hilang dimakan kulit, atau memang tak takkan pernah hilang. Membekas hingga mati.
“Mulai dari manakah hidup?” sejak lahir? Atau sejak Bunda dan Papah “bercinta”? dan mengalami pembuahan. Atau mungkin juga sejak dikasih nyawa sama Tuhan?. Kapan?. Ternyata jawabannya adalah ketika gua/ane/akuh/samyah tahu gua/ana/abdi/diriku hidup, mengerti, memahami, meresapi, menstimulasi, ngerorganisasi, melihati, membumbui, serta mencumbui. Sejak sekian lama gua tidak tahu arah hidup ini akan kemana, dan ternyata arahnya ke keyakinan. Andai gua mati kemarin, kalau tidak ada keyakinan. Gw tidak tahu apakah itu merupakan sebuah hidup.
Hari pertama di detik pertama, perjalanan menunjukan konsepsi kemegahan dunia, bagaimana tidak perbandingan dunia rahim dan dunia ini sangat jauh bedanya dan rasa itu dirasakan hari ini dengan tulisan ini. Memulai hidup nan berat1 dan ringan2 ini rasa-rasanya ingin sesekali menempelkan hari lalu dalam sebuah kertas, berhaga tidaknya sebuah history tergantung berapa banyak orang yang mau menghargai sebuah karya walaupun hanya dengan lembaran GOCAP bahkan CEPE (matrealistis mode on). Tapi walaupun demikian itu baru pikiran Si Miskin intelektual-material yang dipaksa untuk tetap survive di wajah, pantat, kepala, badan dan muka bumi ini. Haru pilu.
*1: Keadaan yang mungkin sekarang sangat gampang dibayangkan (miskinus parianus) cari aja di Indonesia, gampang kan?
*2: Kata untuk mengobati keadaan yang dalam tanda kutip BERAT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar